Focus Group Discussion “Kajian Kerentanan dan Adaptasi Perubahan Iklim dalam Pengelolaan Sumber Daya Air di Kota-kota Pesisir Asia Tenggara” di Kota Padang

2.6/5 (9 votes)

Asian Institute of Technology (AIT) bersama tiga mitra kerja dari negara Thailand, Vietnam, dan Indonesia, telah bekerjasama melaksanakan proyek “International Climate Initiative for Southeast Asia (ICI SEA)” yaitu Kajian Kerentanan dan Adaptasi Perubahan Iklim dalam Pengelolaan Sumber Daya Air di Kota-kota Pesisir Asia Tenggara, untuk membantu pemerintah kota/ kabupaten mengarusutamakan hasil kajian risiko perubahan iklim dan hasil pembelajaran proyek adaptasi percontohan ke dalam rencana pembangunan daerah. Di Indonesia, AIT bekerjasama dengan URDI (Lembaga Komunikasi Pengembangan Perkotaan dan Daerah) sebagai lembaga penelitian independen. Proyek ICI SEA ini terdiri dari tiga tahap yang dilaksanakan selama empat tahun (2011 – 2014). Tahap 1 telah menghasilkan Rapid Vulnerability Assessment (RVA) untuk lima kota terpilih di Indonesia pada tahun 2011 – 2012. Berdasarkan hasil RVA, dua kota, yang salah satunya adalah Kota Padang, terpilih sebagai kota percontohan untuk kelanjutan penilaian risiko perubahan iklim (tahap 2) dan pelaksanaan pilot project adaptasi perubahan iklim (tahap 3).

 

Dalam rangka menindaklanjuti proyek ini, maka AIT, URDI dan Pemerintah Kota Padang bekerjasama mengadakan FGD dengan tujuan merumuskan konsensus antara stakeholder terkait tentang dampak perubahan iklim di wilayah pesisir Kota Padang pada sektor sumber daya air untuk dijadikan masukan dalam penilaian risiko perubahan iklim yang selanjutnya akan menghasilkan suatu rumusan pedoman dan/atau kebijakan tentang strategi adaptasi perubahan iklim di tingkat lokal. FGD ini diadakan pada tanggal 24 Juni 2013 di Ruang Serba Guna Bappeda Kota Padang. Narasumber dalam FGD ini yaitu Basli, SE, MM (Sekretaris Bappeda Kota Padang) sebagai moderator; Vilas Nitivattananon, PhD (Associate Professor and Coordinator of Urban Environmental Management, AIT); Wahyu Mulyana, ST, MA (Direktur URDI) dan Nila Ardhyarini H. Pratiwi (Peneliti URDI). FGD ini dihadiri oleh perwakilan SKPD dan stakeholder terkait, yaitu Bappeda, Bapedalda, BMKG, BPBD, Dinas PU, Dinas Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Universitas Andalas, Mercy Corps, dan Asosiasi Profesi IAP.

 

Materi yang disampaikan dalam FGD ini adalah penjelasan dan status saat ini tentang ICI SEA Project, hasil tahap 1 tentang Rapid Vulnerability Assessment (RVA) Kota Padang, dan Rencana Kerja Tahap 2 dan 3 ICI SEA Project. Dalam sesi diskusi, peserta memberikan klarifikasi tentang dampak perubahan iklim di Kota Padang dan wilayah yang paling rentan. Berdasarkan hasil RVA bahwa dampak perubahan iklim yang paling dirasakan di Kota Padang adalah banjir, abrasi dan tanah longsor, dengan tingkat kerentanan yang paling tinggi adalah banjir. Perubahan curah hujan tahunan di Kota Padang tidak terlihat perbedaan yang signifikan, namun apabila melihat fluktuasi curah hujan bulanan dalam setahun terdapat kejadian curah hujan yang ekstrim. Curah hujan yang tinggi merupakan salah satu pengaruh perubahan iklim yang menimbulkan banjir di Kota Padang. Berdasarkan stasiun pengamat curah hujan di Teluk Bayur, curah hujan tertinggi pada tahun 2011 mencapai 190 mm/hari, sedangkan pada tahun 2012 curah hujan tertinggi lebih dari 200 mm/hari (BMKG). Selain curah hujan, morfologi sungai juga menjadi faktor penyebab banjir karena sungai-sungai di Kota Padang banyak yang mengalami pendangkalan karena tingginya sedimentasi sehingga hulu sungai tidak mampu menampung air hujan pada saat terjadinya hujan ekstrim. Batang Kuranji merupakan salah satu sungai yang mengalami hal tersebut. Faktor lain penyebab banjir adalah karakter Daerah Aliran Sungai (DAS), sebagian besar DAS di Kota Padang memiliki panjang sungai yang pendek, luasan yang sempit, tetapi gradien/ kemiringan sungainya besar (terjal) sehingga koefisien run off di hulu sangat tinggi. Bentang alam di Kota Padang juga mempengaruhi terjadinya banjir, yaitu adanya dataran pantai dan perbukitan yang berdekatan dengan jarak hanya sekitar 5 km. Daerah yang paling rentan terhadap bencana banjir antara lain Kec. Padang Selatan, Kec. Padang Barat, Kec. Koto Tangah, dan Kec. Padang Utara.

Peserta memberikan respon yang positif dan mendukung pelaksanaan pilot project adaptasi perubahan iklim di Kota Padang. Setelah pelaksanaan FGD ini, selanjutnya URDI akan menyusun Kajian Risiko Perubahan Iklim di Kota Padang dan akan mengadakan FGD lanjutan untuk validasi hasil Kajian Risiko Perubahan Iklim dan membuka diskusi untuk usulan pilot project yang akan dilaksanakan.

Address

Komplek Perkantoran Royal Palace Blok C-3
Jl. Prof. Dr. Soepomo, SH Kav. 178A
Menteng Dalam - Jakarta Selatan 12870

(021) 8312087

(021) 8312196

urdi@urdi.org | Quick Contact | Location Map