| Banjir Bukti Kegagalan Kolektif |
|
|
|
|
Pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga, namun pada kenyataannya pepatah tersebut tidak berlaku bagi “penghuni” Jakarta dan kota-kota sekitarnya. Penghuni Jakarta adalah seluruh stakeholder kota yang meliputi pemerintah pusat dan daerah, masyarakat dan swasta. Mengapa pengalaman banjir tiap tahun tidak menjadi guru yang paling berharga buat penghuni Jakarta?. Padahal banjir di Jakarta dari tahun ke tahun wilayahnya semakin meluas. Dampak kerugian materiil pun sangat besar, apalagi ditambah dengan dampak psikologis dan nyawa yang hilang. Luasnya daerah banjir tersebut bukan tidak mungkin akan menenggelamkan Jakarta dan sekitarnya suatu saat nanti. Tapi kenyataannya hal ini tetap belum mendapatkan perhatian yang memadai dari penghuni Jakarta. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, mungkin kedepannya kita semua harus mulai menyiapkan kendaraan alternatif lain seperti perahu karet atau perahu kecil pribadi, atau bahkan meyiapkan alternatif permukiman di atas air.
Pertanyaaannya apa yang menyebabkan kondisi seperti ini seolah-olah dibiarkan oleh penghuni Jakarta dan sekitarnya?. Bukannya mencari solusi bersama, yang terjadi adalah kita justru mencari kambing hitam. Masing-masing menyalahkan satu dengan lainnya. Bahkan juga sempat muncul isu perlunya memindahkan ibukota negara. Tulisan berikut mencoba untuk menelusuri penyebab banjir di Jakarta dan sekitarnya dengan melihat peran masing-masing aktor dan berharap dapat memberikan titik terang dari musibah ini sehingga masing-masing menyadari bahwa banjir di Jakarta bukan merupakan kesalahan perorangan, kelompok tertentu ataupun alam tapi lebih kepada kegagalan kolektif yang harus kita sadari bersama. Saat ini adalah waktunya untuk berhenti dari kebiasaan lari dari kenyataan serta saling menyalahkan, tetapi mencoba menghadapi persoalan bersama-sama.
PERMASALAHAN
Permasalahan banjir di Jakarta dan sekitarnya dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok utama. Pertama, sebagai akibat ulah manusia (man made) baik disadari atau tidak. Kedua, karena alam (nature).
Permasalahan banjir sebagai akibat ulah manusia
Kerusakan di Hulu yang dilakukan oleh manusia, disadari maupun tidak. Kerusakan yang dilakukan secara sadar meliputi pembangunan permukiman/bangunan dengan kepadatan dan/atau intensitas tinggi, seperti villa, hotel, resort; penggundulan hutan; pembukaan daerah hijau, dsb. Pembangunan yang kurang memperhatikan lingkungan tersebut menyebabkan penyempitan daerah aliran sungai dan berkurangnya daerah resapan air, yang pada akhirnya menimbulkan erosi, sedimentasi dan pendangkalan sungai. Hal tersebut juga berdampak pada meningkatnya run off dan berkurangnya kapasitas tampung sungai. Sedangkan kerusakan yang dilakukan secara tidak sadar biasanya terkait dengan kebiasaan (perilaku) antara lain kebiasaan membuang sampah sembarangan di sungai. Hal ini bisa jadi ditimbulkan oleh kurangnya pemahaman.
Ketidaksiapan di Hilir. Salah satu dampak besarnya urbanisasi ke Jakarta antara lain dapat dilihat dari banyaknya pembangunan permukiman di bantaran sungai dan daerah lain yang sebenarnya tidak diperuntukan bagi permukiman. Seperti yang terjadi di hulu, hal ini juga berdampak pada penyempitan dan pendangkalan sungai serta berkurangnya daerah resapan air. Di sisi lain pembangunan permukiman cenderung tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai seperti penyediaan saluran drainase, sanitasi dan persampahan. Pembangunan yang tidak terkontrol dan kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan mengakibatkan meningkatnya run-off dan menurunnya kapasitas sungai. Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur yang tidak memadai, sehingga menyebabkan banjir setiap tahun semakin parah.
Dari pembahasan singkat di atas terlihat bahwa permasalahan banjir ini sangat terkait dengan pengembangan wilayah, yaitu keterpaduan pembangunan dan pengelolaan di kawasan hulu dan hilir, serta lebih jauh lagi keterpaduan dengan pengembangan dan pengelolaan kawasan pesisir dan laut. Seperti diketahui banjir di kawasan utara DKI Jakarta juga dipengaruhi oleh pasang naik air laut yang lebih tinggi dari biasanya. Semua kegiatan sosial, ekonomi, lingkungan tersebut seharusnya diatur dalam penataan ruang terpadu (meliputi kawasan hulu, hilir, dan pesisir) yang bersifat multi stakeholder dan multi disipliner.
Alam
Kita tahu bahwa fenomena alam tidak bisa kita hindari termasuk juga fenomena alam yang menyebabkan terjadinya banjir seperti curah hujan yang tinggi, daya dukung alam yang terbatas, gelombang laut yang tinggi, air laut pasang pada tiap bulan purnama dan lain-lain. Berdasarkan pengalaman dan kemajuan teknologi, fenomena alam seperti ini dapat diprediksi. Namun demikian, seringkali yang terjadi adalah kita melakukan pembangunan tanpa mengindahkan fenomena alam ini. Tanda-tanda alam hanya menjadi faktor pelengkap dan belum dijadikan sebagai suatu landasan dalam membuat rencana pembangunan karena sering dikalahkan oleh kepentingan-kepentingan ekonomi. Ketidakmampuan–atau dalam beberapa hal ketidakmauan-melakukan pembangunan dengan menjaga kelestarian lingkungan pada akhirnya justru membahayakan keberlangsungan hidup dan menyebabkan kerugian ekonomi yang lebih besar. Intinya, seharusnya kita sadar bahwa bukan alam yang menyesuaikan diri dengan kita (manusia), tetapi kitalah yang harus bijak menyesuaikan diri dengan kondisi alam yang ada.
Peran Masing-masing Stakeholder
Kita harus berani mengakui bahwa permasalahan banjir ini timbul sebagai akibat kesalahan kolektif. Dengan mengakui kesalahan kita akan dapat masuk ke tahap selanjutnya, yaitu memperbaiki kesalahan tersebut. Dalam hal ini setiap stakeholder mempunyai perannya masing-masing. Beberapa peran tersebut dikemukakan di bawah ini:
Masyarakat
Pengembang (Developer)
Pemerintah Daerah
Pemerintah Pusat
BELAJAR DARI KESALAHAN
Dari permasalahan-permasalahan yang diungkapkan di atas kita harus sudah mulai belajar dari kesalahan artinya kita harus melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus dikerjakan dan bukan dibiarkan atau lari dari kenyataan ataupun dilupakan. Karena masalah yang dihadapi sangat besar dan melibatkan banyak fihak dan berdampak pada kerugian secara ekonomis maupun psikologis. Tentunya pemecahan masalah ini tidak bisa dikerjakan sendiri tapi dikerjakan bersama secara terpadu sesuai dengan perannya masing-masing.
Pekerjaan rumah yang harus segera dikerjakan dari peta masalah di atas adalah:
Pekerjaan rumah tersebut sepertinya sederhana tetapi kenyataannya sulit untuk dilaksanakan namun dengan adanya kejadian ini kita jangan lagi menyelesaikan masalah ini pada tataran wacana tapi harus ada aksi nyata dan duduk bersama untuk menyelesaikannya. Jadikanlah banjir ini sebagai pelajaran yang paling berharga bagi kita semua.
Jakarta, 9 Februari 2007
Kontributor
Gita C. Napitupulu dan Desyrijanti Azharie |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||















