Training

Seminar & Workshop

URDI'S 20th ANNIVERSARY AND THE LAUNCHING OF BUNGA RAMPAI (BOOK 4th )

URDI'S 20th ANNIVERSARY AND THE LAUNCHING OF BUNGA RAMPAI (BOOK 4th )

URDI (Urban and Regional Development Institute) celebrated its 20th anniversary and launched the fourth book of Bunga Rampai titled "Pembangunan Kota Indonesia : Dari Perencanaan ke Pelaksanaan Pembangunan Perkotaan di Indonesia" (Indonesian City Development: From Planning to the Implementation of Urban Development in Indonesia) on 17th November 2015. The event was held in D Tree-Hilton Hotel and attended by the founders, Advisory Board, Supervisors, Management, associates, some writers participated in Bunga Rampai (book 4th) and all institutions who had been cooperated with URDI such as UNFPA (United Nations Population Fund), CLUA (Climate Land Use Alliance), and so on.

 

The event was opened by the speech of Mr. Wahyu Mulyana as Executive Director and continued by the speech of Mrs. Budhy Tjahjati S. Soegijoko as the Chair of URDI’s Foundation. It then follows with the video graphic telling about 20 years of URDI’s contribution to promote sustainable urban development. (https://www.youtube.com/watch?v=0Q8_mvHVyK0&spfreload=10). The peak of the event was the discussion of the book by Mr. Iwan Kustiwan from ITB (Institute of Bandung Technology) and Mr. Arief Wicaksono which was moderated by Mr. Wicaksono Sarosa.

 

After 20 years, URDI is expected to become an institution who continually promotes sustainable urban development.

Ultah URDI

ACARA SYUKURAN ULANG TAHUN URDI YANG KE-20 DAN PELUNCURAN BUKU BUNGA RAMPAI KE-4

 

Pada tangggal 17 November 2015 keluarga besar URDI (Urban and Regional Development Institute) mengadakan syukuran  ulang tahun yang ke-20 sekaligus menerbitkan Buku Bunga Rampai ke-4 yang berjudul "Pembangunan Kota Indonesia - Dari Perencanaan ke Pelaksanaan Pembangunan Perkotaan di Indonesia". Acara syukuran yang dilaksanakan di Hotel D Tree-Hilton dihadiri oleh para pendiri, badan penasehat, badan pengawas, badan pengelola, mitra URDI, para penulis yang telah berpartisipasi dalam penerbitan Buku Bunga Rampai ke-4 dan lembaga-lembaga yang pernah bekerja sama dengan URDI, seperti UNFPA (United Nations Population Fund), CLUA (Climate Land Use Alliance), dan lain-lain.

 

Acara syukuran dibuka dengan kata sambutan oleh Bapak Wahyu Mulyana selaku Direktur Eksekutif dan dilanjutkan oleh Ibu Budhy Tjahjati S. Soegijoko selaku ketua Yayasan dan salah satu pendiri URDI. Acara dilanjutkan dengan menampilkan video grafis yang menceritakan 20 tahun perjalanan dan kontribusi URDI dalam mempromosikan pembangungan perkotaan yang berkelanjutan. Puncak acara kegiatan ini adalah peluncuran dan pembahasan buku  "Pembangunan Kota Indonesia - Dari Perencanaan ke Pelaksanaan Pembangunan Perkotaan di Indonesia". Acara pembahasan buku ini dilakukan oleh oleh Bapak Iwan Kustiwan dari ITB dan Bapak Arief Wicaksono dengan dipandu oleh Bapak Wicaksono Sarosa.

 

Dalam usianya yang telah mencapai 20 tahun, URDI diharapkan dapat terus menjadi lembaga yang mempromosikan pembangunan kota yang berkelanjutan.

Cooperation amongst GGGI, the Government of Indonesia and URDI in Green Growth Program

The Global Green Growth Institute (GGGI) is working with the Government of Indonesia  and URDI to address the challenge of the rapid economic growth and greater future socio-economic potential in order to achieve green growth simultaneously such as poverty reduction, social inclusion, environmental sustainability and resource efficiency.

The high-level green growth roadmap developed in collaboration with the Ministry of National Development Plannning (BAPPENAS) is evidence-based guide to planning and implementing green growth in Indonesia. The roadmap highlights that green growth is concerned not only with the rate of economic growth but also with its quality, i.e. the ability of growth to deliver multiple economic, social, and environmental benefits that improve the quality of people’s lives across all segments of society. This project is committed to people-oriented development with a focus on ensuring that energy, food and job security targets are met and that infrastructure is developed to support expected economic growth rates. In support of this aim,

URDI as a team of experts prepares policy briefs encompassing four focus sectors (energy, forestry & land use, infrastructure, cross-cutting policies & planning). The purpose of the briefs is to show how green growth approached and solutions can help achieve the Indonesian government’s current priorities in the next five years. In collaboration with GGGI, URDI identifies and assess the goals, priorities and targets of the current government of Indonesia and highlight the entry points of green growth interventions and policy change across sectors which can help drive investment flow to green projects to deliver tangible and concrete investment and implementation in support of the identified priorities. URDI will produce four technical briefs explaining how green growth generally and the Government of Indonesia-GGGI Green Growth Program (GGP) in particular can contribute to achieving the priority outcomes over the next five years. The period of the project is from August 2015 to November 2015.

 

GGGI (Global Green Growth Institute) bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan URDI untuk menekankan tantangan dari pertumbuhan ekonomi yang pesat dan besarnya potensi sosial ekonomi di masa depan dalam rangka mencapai pertumbuhan hijau secara serentak seperti menghilangkan kemiskinan, inklusi sosial,lingkungan yang berkelanjutan dan penghematan sumber daya alam.

Peta jalan (roadmap) pertumbuhan hijau pada level tinggi yang telah dihasilkan dari kolaborasi Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) adalah panduan yang berdasarkan bukti untuk merencanakan dan mengimplementasikan pertumbuhan hijau di Indonesia. Peta jalan menyoroti bahwa pertumbuhan hijau diperhatikan tidak hanya dengan laju pertumbuhan ekonomi tetapi juga dengan mutunya, misalnya kemampuan pertumbuhan untuk menyampaikan keuntungan ekonomi, sosial dan lingkungan yang meningkatkan kualitas hidup manusia yang melewati segala segmen di masyarakat. Proyek ini berkomitmen untuk berorientasi pada pembangunan manusia dengan fokus jaminan terhadap energi, makanan dan keamanan mata pencaharian serta infrastruktur dikembangkan untuk mendukung laju pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.

Dalam mendukung tujuan tersebut, URDI sebagai team tenaga ahli menyiapkan kebijakan singkat yang meliputi 4 sektor fokus (energy, kehutanan & tata guna lahan, infrastruktur, perencanaan & kebijakan lintas sektor). Tujuan dari kebijakan singkat ini adalah untuk memperlihatkan bagaimana pendekatan dan solusi pertumbuhan hijau dapat membantu untuk mencapai prioritas dari Pemerintah Indonesia dalam waktu 5 tahun ke depan. Berkolaborasi dengan GGGI, URDI mengidentifikasi dan membuat penilaian terhadap tujuan, prioritas dan target Pemerintah Indonesia dan menyoroti titik masuk dari intervensi pertumbuhan hijau dan perubahan kebijakan lintas sektor yang dapat membantu mendorong laju investasi ke arah proyek hijau untuk menghasilkan kebijakan teknis yang jelas dalam menjelaskan bagaimana pertumbuhan hijau secara umum dan Program Pertumbuhan Hijau (Green Growth Program) Pemerintah Indonesia-GGGI secara khusus dapat berkontribusi untuk mencapai keluaran prioritas di masa 5 tahun ke depan. Periode proyek ini dari Agustus 2015 sampai November 2015.

Connective Cities Workshop on “Towards Green Cities in Asia: Managing Urban Sprawl”

The event of Connective Cities on “Towards Green Cities in Asia : Managing Urban Sprawl” was held on April 20-23, 2015 by Connective Cities-GIZ and supported by URDI. Surabaya agreed to host this event as part of the Mayor’s innovative effort in developing a green city. There were ten cities participating in this three day event : Bogor, Tangerang, Malang, Jogjakarta, Solo, Probolinggo, Banjarmasin, Cebu, Dortmund, Stuttgard, and Nuremberg. Representative from these cities are development actors (academician, local government, project implementers, and local parliamentarian). The event aims to create a platform of network for urban practitioners in exchanging experiences and having peer to peer consultation on issues that they faced in managing urban sprawl.

Dr. Manfred Poppe of Connective Cities-GIZ, opened the workshop by describing the aim and the program of the event and followed by Dr. Delik Hudalah from SAPPK, ITB presenting “Peri-Urban Planning : Managing Urban Sprawl in Fast-Growing Metropoles”. As a keynote speaker, the Mayor of Surabaya presented the case of Surabaya in achieving ‘a green city’ through the development of parks, waste management, and application of e-government. This was then followed with brief presentation from each participating cities, on their issues in managing urban sprawl.

On the second day of the event, Putu Rudy Setiawan from ITS presented intergovernmental coordination in spatial planning which highlighted the case of Surabaya inward looking-ness in managing its development. The afternoon session was filled with group discussion and site visit to three locations : 1) Super depo Sutorejo: a waste sorting site (co-funded by a Japanese company); 2) Bratang: a composting house that is adjacent to Flora Park; 3) RW 5, Kelurahan Jambangan: an exampleof self-reliance community in Surabaya that practices waste recycling program and water purifier.

The event was closed with analyzing the challenges and finding appropriate solution of the cities using selected tools introduced by Dr. Manfred Poppe. In conclusion, there were four main issues in urban sprawl : 1) Governance : inter-governmental relation, policy and regulation; 2) Planning and design issues; 3) Land Policy : access to land, value/price of land; 4) Infrastructure Planning : construction.

GIZ surabaya

Lokakarya Connective Cities mengenai “Menuju Kota Hijau di Asia : Mengelola Perkotaan Yang Menjalar (Urban Sprawl)”

Acara Lokakarya Connective Cities “Menuju Kota Hijau di Asia : Mengelola Perkotaan Yang Menjalar (Urban Sprawl)” diselenggarakan pada tanggal 20-23 April 2015 di Surabaya. Surabaya dipilih menjadi tuan rumah antara lain karena upaya dari Walikota Surabaya dalam membangun kota hijau. Acara ini diselenggarakan oleh Connective Cities-GIZ dan didukung oleh URDI. Ada sepuluh kota yang berpartisipasi dalam acara tiga hari ini, yaitu : Bogor, Tangerang, Malang, Jogjakarta, Solo, Probolinggo, Banjarmasin, Cebu, Dortmund, Stuttgard, dan Nuremberg. Peserta yang merupakan perwakilan dari kota-kota ini adalah para pelaku yang terlibat dalam pembangunan kota seperti akademisi, pemerintah daerah, pelaksana proyek, dan anggota parlemen. Acara ini bertujuan menyusun platform dari jaringan untuk para praktisi perkotaan dalam bertukar pengalaman dan mempunyai rekan untuk saling berkonsultasi tentang isu-isu pembangunan perkotaan yang menjalar dan tidak terarah  (urban sprawl) yang mereka hadapi.

Dr, Manfred Poppe, Ketua Connective Cities – GIZ membuka acara hari pertama dengan menjelaskan tujuan dan program acara, dilanjutkan oleh Dr. Delik Hudalah dari SAPPK, ITB yang memaparkan “Peri-Urban Planning : Managing Urban Sprawl in Fast-Growing Metropoles”. Walikota Surabaya mempresentasikan studi kasus Kota Surabaya dalam mencapai ‘kota hijau’ melalui pembangunan taman, pengelolaan sampah, dan aplikasi e-government. Setelah itu setiap kota peserta mempresentasikan isu-isu kotanya dalam mengelola perkotaan yang pembangunannya menjalar dan tidak terarah (urban sprawl).

Di hari kedua, Putu Rudy Setiawan dari ITS memaparkan koordinasi antar pemerintah dalam rencana tata ruang yang mengangkat studi kasus Surabaya di mana pengelolaan pembangunan kotanya terlalu fokus pada kota itu sendiri dan kurang memperhatikan keterkaitan dengan daerah sekitar. Sesi sore dilanjutkan dengan diskusi kelompok dan kunjungan lapangan ke tiga lokasi : 1) Super depo Sutorejo : tempat pemilahan sampah (dengan bantuan dana dari perusahaan Jepang); 2) Bratang : rumah kompos yang bersebelahan dengan Taman Flora; 3) Kelurahan Jambangan RW 5 : contoh masyarakat Surabaya yang mandiri dalam mempraktekkan program daur ulang sampah dan penyulingan air.

Acara ini ditutup dengan analisis tantangan dan mencari usulan yang cocok untuk kota-kota dengan menggunakan pilihan metoda yang diperkenalkan oleh Dr. Manfred Poppe. Sebagai kesimpulan, ada empat isu dalam perkotaan yang pembangunannya menjalar dan tidak terarah (urban sprawl) yaitu : 1) Pemerintahan : hubungan antar pemerintah, kebijakan dan peraturan; 2) Perencanaan dan isu perancangan; 3) Kebijakan Pertanahan : akses terhadap tanah, nilai/harga tanah; 4) Perencanaan infrastruktur : konstruksi.

Workshop of Population Dynamic and Climate Change in Kedung Sepur Metropolitan Area

Workshop of Population Dynamic and Climate Change in Kedung Sepur Metropolitan Area

The workshop held in Semarang on 15th June 2015 titled “Population Dynamic and Climate Change in Kedung Sepur Metropolitan” was organized with the cooperation between UNFPA (United Nations Population Fund) Indonesia and URDI (Urban and Regional Development Institute). This workshop is a part of the project “Linking Population Dynamics and Climate Change Adaptation with Disaster Risk Reduction” started in 2013.

workshop kedungsepur

The workshop consists of a study presentation about population dynamic influencing the cause and impact of climate change. The connection understanding between population and vulnerability to climate change is important in formulating the effective policy and adaptation activity. The impact of increasing the frequency and intensity of hazard caused by climate change will be huge to the rapidly growing city. Metropolitan Semarang known as Kedung Sepur Metropolitan (District of Kendal, Demak, Semarang, Semarang City, Salatiga, and District of Grobogan) is the area with highly growing  population. The study of UNFPA indicates that Semarang City and surrounding areas are vulnerable to some hazards such as drought, landslide, and flooding. The hazard will increase as the impact of climate change. In the same time, highly growing economic in Semarang City as a core city of Kedung Sepur Metropolitan encourages the urbanization to Semarang City. This urbanization at the end will cause socio economic problem such as poverty, unemployment, pollution and environmental damage.

The workshop was opened by the speech of Mr. Purnomo Dwi Sasongko (the Secretary of Bappeda of Semarang City) and Mr. Richard J. Makaleuw as the representative of UNFPA in Indonesia. The speakers in this workshop are Mr. Fadjar Hari Mardiansjah giving the presentation about Urbanization Issue in Kedung Sepur Area and Mr. Edi Waluyo giving the presentation about Disaster and Climate Change in Kedung Sepur Area. The workshop attended by the Local Government of Kendal District, Demak, Semarang, Semarang City, Salatiga and Grobogan District aims to discuss population dynamic occurring in Kedung Sepur Metropolitan, especially urbanization in Semarang which identifies urbanization core determinant, impact and correlation between urbanization, climate change and disaster.

The workshop expects that the participants will understand some points, such as : 1) urbanization dynamic taken place in Kedung Sepur Area; 2) demographic impact on climate change happening in Kedung Sepur; 3) how far climate change increases the community vulnerability to the hazard; 4) how climate change affects the intensity and the impact of hazard in Kedung Sepur Metropolitan Area; 5) what policy has being done by the Local Government to adapt and eliminate the hazard risk of climate change.

 

Lokakarya Dinamika Kependudukan dan Perubahan Iklim di Kawasan Metropolitan Kedung Sepur

Lokakarya yang diadakan di Semarang pada tanggal 15 Juni 2015 dengan tema “Dinamika Kependudukan dan Perubahan Iklim di Kawasan Metropolitan Kedung Sepur” diadakan atas kerja sama antara  UNFPA (United Nations Population Fund) Indonesia dan URDI (Urban and Regional Development Institute). Lokakarya ini merupakan bagian dari proyek “Linking Population Dynamics and Climate Change Adaptation with Disaster Risk Reduction” yang dimulai pada tahun 2013.

Lokakarya ini terdiri dari pemaparan studi tentang dinamika kependudukan yang mempengaruhi penyebab dan dampak perubahan iklim. Pemahaman hubungan antara dinamika kependudukan dan kerentanan terhadap perubahan iklim sangat penting dalam menyusun kebijakan dan aksi adaptasi yang efektif dan tepat sasaran. Dampak meningkatnya frekuensi dan intensitas bahaya akibat perubahan iklim akan sangat besar pengaruhnya pada kawasan perkotaan yang tumbuh dengan cepat. Kawasan Metropolitan Semarang atau yang dikenal dengan nama Metropolitan Kedung Sepur (Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kota Salatiga dan Kabupaten Grobogan) merupakan kawasan dengan pertumbuhan penduduk yang pesat. Studi yang dilakukan oleh UNFPA mengindikasikan bahwa Kota Semarang dan sekitarnya merupakan salah satu kawasan yang sejak lama menghadapi berbagai ancaman bencana seperti kekeringan, penurunan tanah, longsor dan banjir. Ancaman bencana tersebut akan terus meningkat dengan terjadi perubahan iklim. Pada saat yang sama, pesatnya pertumbuhan ekonomi Kota Semarang sebagai kota inti dari Metropolitan Kedung Sepur telah mendorong terjadinya urbanisasi ke Kota Semarang. Urbanisasi ini akhirnya menyebabkan permasalahan sosial dan ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran, polusi dan kerusakan lingkungan.

Lokakarya ini dibuka oleh sambutan Bapak Purnomo Dwi Sasangko sebagai Sekertaris Bappeda Kota Semarang dan Bapak Dr. Richard J. Makaleuw yang merupakan perwakilan UNFPA Indonesia. Dalam lokakarya ini Bapak Dr. Ir. Fadjar Hari Mardiansjah, MT, MDP memberi pemaparan tentang Isu Urbanisasi di Kawasan Kedung Sepur, dilanjutkan dengan Bapak Ir. M. Edi Waluyo yang memberikan pemaparan tentang Perubahan Iklim dan Bencana di Kawasan Kedung Sepur. Lokakarya yang dihadiri oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kota Salatiga dan Kabupaten Grobogan ini bertujuan untuk mendiskusikan dinamika kependudukan yang terjadi di Kawasan Metropolitan Kedung Sepur, khususnya urbanisasi di perkotaan Semarang dengan mengidentifikasi determinan pokok urbanisasi serta mengidentifikasi dampak dan kaitan urbanisasi dengan perubahan iklim dan bencana.

Dari lokakarya ini diharapkan peserta dapat memahami beberapa hal yaitu : 1) dinamika urbanisasi yang terjadi di Kawasan Kedung Sepur; 2) dampak demografi terhadap perubahan iklim yang terjadi di Kawasan Kedung Sepur; 3) sejauh mana perubahan iklim dapat meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap bencana; 4) bagaimana perubahan iklim mempengaruhi intensitas dan dampak bencana di Kawasan Metropolitan Kedung Sepur serta; 5) kebijakan apa yang telah dan sedang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk beradaptasi dan mengurangi risiko bencana perubahan iklim.

Workshop on Population Dynamics and Climate Change

In the last quarter of 2012, the United Nations Population Fund (UNFPA) and the International Institute for Environment and Development (IIED), in collaboration with Urban and Regional Development Institute (URDI) and Visiting Professor from Brown University have prepared a working paper on urbanisation, demographic change and climate change in Semarang metropolitan region.The relationship between population dynamics and increasing climate risks is the main concern of this paper. This study is aimed to identify potential vulnerabilities and highlight the capacity of stakeholders to adapt to climate change in the context of particular urban demographic trends. In addition to providing a broad overview of these issues at the national level, specifically examine how these dynamics influence the capacity of stakeholders in Semarang City to address climate risks.

Population Dynamics and Climate Change in Indonesia was held by UNFPA in cooperation with Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Pemerintah Kota Semarang and Urban and Regional Development Institute (URDI) on 17 – 18 October 2013. The purpose of the workshop is to disseminate the study results to national and local stakeholders.

unfpa2 UNFPA

The workshop day 1 consist of opening remarks and keynote speech from DNPI on population dynamics and climate change in Indonesia context, presentation of the study results on population dynamics and climate change followed by discussion of the study by the discussant, response from central government and city government about change climate and population dynamic issues, and closed with the conclusion of the workshop day 1.

The workshop day 2 had parallel discussion on three main topics, namely:

  1. Implications of population dynamics for reducing risk to disaster and climate change
  2. Implications of population dynamics for achieving low emission climate resilient development
  3. Integrating population and other data to support climate response at national and local level.

Address

Komplek Perkantoran Royal Palace Blok C-3
Jl. Prof. Dr. Soepomo, SH Kav. 178A
Menteng Dalam - Jakarta Selatan 12870

(021) 8312087

(021) 8312196

urdi@urdi.org | Quick Contact | Location Map

You are here: News & Event